Hening, malam kian larut, bahkan pagi menjelang.
Hawa dingin sudut kota Wonosobo kian menggigit. Senyap, pada sepi yang
menelikung hati. Sendiri, dalam gelap. Terus menarikan jemari di atas
keyboard laptop.
Sendiri, ku di sini. Di ruang yang dahulu pernah
menorehkan prasasti sejarah untukku, kucoba kembali susun kepingan hati
yang terserak, menyusunnya dengan penuh kehati-hatian agar tak ada celah
setan menyusup.
Diam, aku belajar tafakuri. Derap rapat-rapat hati dengan dzikir agar tak ada tangis kesia-siaan.
Perlahan,
ku obati luka atas goresan yang tersayat dalam hati, mengusapnya
lembut, dengan sentuhan lantunan dzikir yang mulai terasa getarnya.
Bismillah…
Menjalani
hidup sebagai anak korban broken home, tentunya kita tau seperti apa
rasanya … tapi bukan ini yang akan aku paparkan dalam tulisan
sederhanaku.
Ku sadari, bukan hal mudah menjalani peran sebagai
anak korban broken home. Hingga kemudian, saat kaki ini mulai terasa
lelah menapak alur skenario hidup, dalam pemberhentianku di antara terik
untuk sejenak mengusap peluh, aku belajar menatap titah hidupku dari
perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang
kabut yang menghijabi kebeningan hati.
Meskipun,
Broken home menjadikan aku pincang tanpa seorang ayah, buta dan tuli tanpa kesempurnaan cinta seorang ibu.
Tapi…
Broken home
mengajariku, tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam
penerimaan terhadap titahNya. Menerima kehilangan sebagai bentuk proses
penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup, tidak
terlalu bergantung pada sosok seorang ayah. Broken home menuntunku untuk
semakin mendekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadaranku bahwa
keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak. Hanya
dengan mendekat, bercakap dan memohon pada-Nya kedamaian hati itu aku
dapat.
Broken home… menjadi penyemangat dalam
kesungguhanku menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan
tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan
kesemangatan ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa
depan yang lebih baik.
Broken home menjadi cambuk
pelecut, atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai
mempersiapkan diri agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang
tuaku. Menuntunku untuk senantiasa berbenah menjadi manusia berkualitas
agar kelak menjadi seorang ibu shalihah yang mampu mendidik anak-anakku
dengan cinta dan berjalan seiring dengan suami membentuk keluarga
harmonis yang dekat dengan Rabbnya.
Broken home
memproteksi hatiku, mematikan rasa agar senantiasa terjaga kesuciannya,
tak tersentuh oleh sosok yang tak semestinya dan menanggalkan
pengharapan dalam penantian yang keliru. Karena hanya Allah, Allah sang
pemilik hati. Dia yang akan menentukan pada siapa esok hati ini akan
tertaut membentuk ikatan suci.
Menjadi anak korban broken home
karena Allah mencintaiku lebih dari yang lain, Allah menginginkan aku
tumbuh menjadi individu tangguh yang senantiasa dekat denganNya.
Menjadi anak korban broken home? Kenapa harus menangis (lagi)??!
Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambaNya yang SABAR dan TAK KENAL PUTUS ASA
Jangan menyerah Jangan menyerah Jangan menyerah
(d’masiv)
—
Cermin kecil, muhasabah penghujung malam, kala cintaNya (kembali) menyapa dengan caraNya.
Cerita itu bisa hadir pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun .. sebuah cerita, sebuah kisah, sebuah pengalaman, dan sebuah kejadian itu bisa menjadi cerita dan bisa dijadikan pengalaman.. sedetik lalu yang kita lakukan bisa berbuah pada sedetik kedepan yang kita harapkan. Sebuah cerita akan lebih bermakna jika kita tau dan paham bahwa hal yang terjadi mempunyai banyak makna dan hikmah, so stay syukur :) Allah with you, me, and us !!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar